Adagium Hukum Pidana

ADAGIUM HUKUM PIDANA




  1. Accipere quid ut justitiam focias non est team accipere quam exiorquere. To accept anything as a reward for doing justice is rather estorting than accepting ; Menerima sesuatu sebagai imbalan untuk menegakkan keadilan akan mengarah ke tindakan pemerasan, bukan hadiah. 
  2. Communi observantia non est recedendum. There should be no daparture from common observance (or usage); Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh seseorang menandakan maksud yang terdapat dalam pikirannya. 

  1. Cujus est commodum, ejus debet esse inc ommodum. The person who has the advantage should also have the disadvantage; Seseorang yang mendapatkan suatu keuntungan juga akan mendapatkan suatu kerugian

  2. Culpue poena par esto. Let the punishment be equal the crime; Jatuhkanlah hukuman yang setimpal dengan perbuatan.

  3. Cum adsunt testimonia rerum, quid opus est verbist. When the proofs of facts are present, what need is there of words ?; Saat bukti dari fakta-fakta ada, apa gunanya kata- kata ?

  4. Cum duo inter se pugnantia reperiuntur in testamento, iltimum ratum est. When two clauses a will are found to be contradictory, the last in order prevails; Jika terdapat perbedaan dalam suatu hakikat, maka terlihat jelas adanya 2 persepsi yang berbeda.

  5. Ei incumbit probatio quidicit, nonqui negat. The burden of the proot rest upon the person who affirms, not the one who denies ; Beban dari bukti disandarkan pada orang yang menugaskan tuduhan bukan yang menyangkal.

  6. Debet quis juri subjacere rebi delinquit. Any offender should be subject to the law of the place where he offends; Seseorang Penggugat harus mengacu pada hukum yang berlaku di tempat dia mengajukan gugatan.

  7. Dormiunt aliquando leges, nunquam moriuntur. Laws sometimes sleep but never die ; Hukum terkadang tidur, tetapi hukum tidak pernah mati.

  8. Droil ne done, pluis que soit demaunde. Thed law give no more than is demanded; Hukum memberi tidak lebih dari yang dibutuhkan

  9. Facta sunt potentiora verbis. Deeds (or facts) are more powerful than words; Perbuatan (atau fakta) lebih kuat dari kata-kata.

  10. Fiat justicia ruat caelum. Let justice be done though the heaven should fall Keadilan harus ditegakkan, walau harus mengorbankan kebaikan.

  11. Frustra legis auxilium quareit qui in legem committit. Vainly does a person who offends against the law seek the help of the law; Adalah sia-sia bagi seseorang yang menentang hukum tapi dia sendiri meminta bantuan hukum.

  12. Id perfectum est quad ex omnibus suis partibus constant. That is perfect which is complete in all ist part; Sesuatu dinyatakan sempurnanya bila setiap bagiannnya komplit.

  13. Ignorantia judicis est calanaitax innocentis. The ignorance of the judge is the misfortune of the innocent; Ketidaktahuan hakim aialah suatu kerugian bagi pihak yangb tidak bersalah.

  14. Ignorantia juris non exucusat. Ignorance of the law does not excuse; Ketidaktahuan akan hukum tidak dimaafkan.

  15. Ignorantia excusatur non juris sed facti. Ignorance of fact is exused but not ignorance of law; Ketidaktahuan akan fakta-fakta dapat dimaafkan tapi tidak demikian halnya ketidaktahuan akan hukum.

  16. Inde datae leges be fortior omnia posset. Law were made lest the stonger should have unlimited power; Hukum dibuat, jika tidak maka orang yang berkuasa akan mempunyai kekuatan yang tidak terbatas.

  17. Index animi sermo. Speech is the index of the mind; Cara seorang berbicara menunjukkan jalan pikirannya.

  18. Iniquum est aliquem rei sui esse judicem. It is unjust for anyone to be judge in his own; Adalah tidak adil bagi seseorang untuk diadili pada perkaranya sendiri

  19. Judex set lex laguens. The judge is the sepaking law; Sang hakim ialah hukum yang berbicara.

  20. Judex debet judicare secundum allegata et probata The judge ought to give judgment according to the allegatiopns and the proofs ; Seorang hakim harus memberikan penilaian berdasarkan fakta-fakta dan pernyataan.

  21. Judex herbere debet duos sales, salem sapientiae, ne sit insipidus, et salem conscientiae, ne sit diabolus. A judge should have two silts ; the salt of wisdom, lest he be foolish ; and the salt of conscience, lest he be devilish; Seorang hakim harus mempunyai dua hal ; suatu kebijakan, kecuali dia adalah orang yang bodoh ; dan hati nurani ; kecuali dia mempunyai sifat yang kejam.

  22. Judex non putest esse testis in propria cause. A judge cannot be a witness in his own cause; Seorang hakim tidak dapat menjadi seorang saksi dalam perkaranya sendiri.

  23. Judex non reddit plus wuam quod petens ipsse requirit. A judge does not give more than the plaintiff himself demands; Seorang hakim tidak memberikan permintaan lebih banyak dari sipenuntut.

  24. Judicandum est legibus non exemplis. Judgment must be given by the laws, not by examples; Seorang hakim tidak dibatasi untuk menjelaskan penilaiannya sendiri.

  25. Judicia poxteriora sunt in lege fortiora The later decisions are stronger in law; Keputusan terakhir ialah yang terkuat di mata hukum.

  26. Juramentum est indivisinle, et non est admittendum. in partly true and partly falsum An oath is indivisible ; it is not to be accepted as partly true and partly false. Sebuah sumpah tidak dapat dibagi ; sumpah tersebut tidak dapat diterima jika sebagiannya benar dan sebagian lagi salah.

  27. Justitiae non est neganda, non differenda. Justice is not to be denied or delayed ; Keadilan tidak dapat disangkal atau ditunda.

  28. Jurare eat deum in testem vocare et est actus divini cultus. To swear is to call God to witness, and is an acty of religion; Memberikan sumpah ialah sama halnya dengan memanggil Tuhan sebagai saksi hal itu adalah hal keagamaan.

  29. Juris quidem ignorantium cuique nocere, facti verum ignorantiam non nocere. Ignorance of law is prejudicial to everyone, but ignorance of fact is not; Ketidaktahuan hukum merugikan semua orang ; tetapi ketidak tahuan fakta tidak demikian.

  30. Lex nemini operatur iniquum, neminini facit injuriam The law works an injustice to no one and does wrong to no one; Hukum tidak memberikan ketidakadilan kepada siapapun dan tidak melakukan kesalahan kepada siapapun.

  31. Lex posteriori derogat legi priori A later statute repeals an earlier one; Undang-undang yang baru menghapus Undang-undang yang lama.

  32. Lex prospcit, non respicit.The law looks forward, not backward; Hukum melihat kedepan bukan ke belakang.

  33. Lex rejicit superflua, pugnantia, incongrua The law rejects superfluous, contraditory, and incongruous things; Hukum menolak hal yang bertentangan dan tidak layak.

  34. Lex semper dabit remedium. The law always give a remedy Hukum selalu memberi obat

Next Post Previous Post