Landasan dan Asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan

 



Landasan dan Asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan : Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah proses pembuatan Peraturan Perundang-undangan yang pada dasarnya dimulai dari perencanaan, persiapan, teknik penyusunan, perumusan, pembahasan, pengesahan, pengundangan dan penyebarluasan. PeraturanPerundang-undangan adalah peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang. [1]

Asas-asas pembentukan Peraturan Perundang-undangan menurut Prof A. Hamid S. Attamimi, adalah asas hukum yang memberikan pedoman dan bimbingan bagi penuangan isi peraturan ke dalam bentuk dan susunan yang sesuai, bagi pembentukan dengan metode, proses, dan prosedur pembentukan yang tepat. [2]

Dasar-dasar peraturan perundang-undangan melipiti:[3]

1. Landasan Filosofis

Landasan filosofis dalam pembentukan peraturan perundang-undangan yaitu peraturan perundang-undangan bisa dikatakan memiliki landasan filosofis apabila rumusannya ataupun normanya mendapatkan pembenaran setelah dikaji secara filosofis.

2. Landasan Sosiologis

Landasan sosiologis dalam pembentukan peraturan perundang-undangan yaitu suatu peraturan perundang-undangan bisa dikatakan memiliki landasan sosiologis bila sesuai dengan keyakinan umum, kesadaran hukum masyarakat, tata nilai dan hukum yang hidup di masyarakat.

3. Landasan Yuridis

Landasan yuridis dalam pembentukan peraturan perundang-undangan yaitu peraturan perundang-undangan bisa dikatakan memiliki landasan yudiris bila terdapat dasar hukum, legalitas atau landasan yang terdapat dalam ketentuan hukum yang lebih tinggi derajatnya.

4. Landasan Politis

Landasan politik merupakan garis kebijakan politik yang menjadi dasar selanjutnya bagi kebijaksanaan dan pengarahan ketatalaksanaan pemerintah Negara.

Asas hukum adalah aturan dasar yang melatarbelakangi lahirnya norma hukum konkrit dan pelaksanaan hukum. Jadi norma hukum merupakan jantungnya hukum. Dengan kata lain sebagai bintang pemandu pembentukan dan pelaksanaan hukum. Apabila dalam hukum terjadi pertentangan atau konflik norma (conflic of norm), maka asas tampil untuk mengatasinya.[4]

Pada umumnya terdapat berbagai asas-asas hukum umum atau prinsip hukum (general printciples of law) harus diperhatikan dan diperlukan dalam pembentukan peraturan perundang-undangan yaitu: [5]

 

  1. Asas lex superiot derogate legi inferiori,yaitu peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatannya didahulukan berlakunya daripada peraturan perundang-undangan yang lebih rendah dan sebaliknya.
  1. Asas lex specialis derogate legi generali,yaitu peraturan perundangan-undangan khusus didahulukan berlakunya daripada peraturan perundang-undangan yang umum.
  1. Asas lex posterior derogate legi priori,peraturan perundang-undangan yang baru didahulukan berlakunya daripada yag terdahulu.
  1. Asas lex neminem cogit ade impossobilia,yaitu peraturan perundang-undangan yang tidak memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan atau disering disebut sebagai asas kepatutan.
  1. Asas lex perfecta,yaitu peraturan perundang-undangan tidak saja melarang suatu tindakan tetapi juga menyatakan tindakan terlarang itu batal. 
  1. Asas non retroactive, yaitu peraturanperundang-undangan tidak dimaksukan untuk berlaku surut karena akan menimbulkan kepastuan hukum.

Undang-undang Republik Indonesia No. 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peratura Perundang-undangan sebagaimana dinyatakan dalam pasal 5, menyatakan bahwa dalam mebentuk peraturan perundang-undangan harus dilakukan berdasarkan pada asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik , meliputi:[6]

  1. Asas kejelasan tujuan
  2. Asas kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat
  3. Asas kesesuian antara jenis dan materi muatan
  4. Asas kedayagunaan dan kehasilgunaan
  5. Asas kejelasan rumusan
  6. Asas keterbukaan

Sementara itu asas-asas yang harus dikandung dalam materi muatan peraturan perundang-undangan di Negara Republik Indonesia dirumuskan dalam pasal 6 sebagi berikut:

  1. Asas pengayoman
  2. Asas kemanusiaan
  3. Asas kebangasaan
  4. Asas kekeluargaan
  5. Asas kenusantaraan
  6. Asas bhineka tunggal ika
  7. Asas keadilan
  8. Asas kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan
  9. Asas ketertiban dan kepastian hukum
  10. Asas keseimbangan, keserasian, dan keselarasan

 

 

 

Sumber/Referensi:

[1] Pasal 1 ayat 1-2 UU No 10/2004

[2] A.Hamid S. Attamimi. Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara. Disertasi, Universitas Indonesia. Fakultas Pascasarjana, 1990,h 313

[3]  Hasyimzoem Yusnani, M Iwan satriawan, Ade Arif Firmansyah, dan Siti Khoiriyah, Hukum Pemerintahan Daerah, Jakarta:Rajawali Pers, 2017.

[4] Satjipto Rahardjo, 2006: 47, Maria Farida, 2007: 252

[5]  Abdullah, Abdul Gani, Artikel Ilmiah, Pengantar Memahami Undang-Undang tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, Jurnal Legislasi Indonesia, Vol. 1 No.2.

[6]   Otje Salman dan Anthon F.Susanto (Teori Hukum:Mengingat, Mengumpulkan dan Membuka Kembali, (Bandung PT.Refika Aditama, 2008), hal. 1-2.

 

 

 

 

Next Post Previous Post