Pengertian Korupsi Menurut Hukum Positif dan Hukum Islam

 

 
Pengertian Korupsi Menurut Hukum Positif dan Hukum Islam
 
 
Dalam Black’s Law Dictionary korupsi diartikan sebagai perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk memberikan suatu keuntungan yang tidak resmi dari pihak-pihak lain, secara salah menggunakan jabatannya atau karakternya untuk mendapatkan suatu keuntungan untuk dirinya sendiri atau orang lain yang berlawanan dengan kewajibannya dan hak-hak dari pihak-pihak lain. Korupsi merupakan sebuah tindakan yang tercela dan menciderai nurani setiap warga negara, tindakan korupsi termasuk kedalam extra ordinary crime (kejahatan luar biasa). Definisi korupsi dalam hukum islam termaktub  dalam surat al-Baqarah ayat 188 yang kemudian menginterpretasikan korupsi sebagai prilaku Ghulul.
 
  1. Korupsi Menurut Hukum Positif

      Istilah korupsi berasal dari bahasa latin corruptio, bahasa Inggris corruption, dan bahasa Belanda corruptie yang memiliki arti perbuatan yang rusak, busuk, tidak jujur, yang berkaitan dengan keuangan. Dalam Black’s Law Dictionary korupsi diartikan sebagai perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk memberikan suatu keuntungan yang tidak resmi dari pihak-pihak lain, secara salah menggunakan jabatannya atau karakternya untuk mendapatkan suatu keuntungan untuk dirinya sendiri atau orang lain yang berlawanan dengan kewajibannya dan hak-hak dari pihak-pihak lain.(DARDA PASMATUTI, 2019)

     Berdasarkan Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang dirubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dalam Pasal 2 dan Pasal 3 mendefinisikan korupsi sebagai berikut :

  • Pasal 2 ayat (1) UU Tipikor menyebutkan setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau sutau korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara (...)
  • Pasal 3 UU Tipikor menyebutkan setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau karena kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara (...)

Definisi lain korupsi adalah tingkah laku yang menyimpang dari tugas-tugas resmi sebuah jabatan negara karena keuntungan status atau uang yang menyangkut pribadi (perorangan, keluarga dekat, kelompok sendiri) atau melanggar peraturan-peraturan pelaksanaan beberapa tingkah laku pribadi. Korupsi dapat diartikan memungut uang bagi layanan yang sudah seharusnya diberikan atau menggunakan wewenang untuk mencapai tujuan yang tidak sah. Istilah korupsi yang telah diterima dalam perbendaharaan kata bahasa Indonesia, disimpulkan oleh Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia bahwa korupsi adalah perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok, dan sebagainya. Secara umum korupsi dipahami sebagai suatu tindakan pejabat publik yang menyelewengkan kewenangan untuk kepentingan pribadi, keluarga, kroni, dan kelompok yang mengakibatkan kerugian keuangan negara.[1]

 

  1. Korupsi Menurut Hukum Islam

     Sulit sejatinya untuk mendefinisikan korupsi secara persis sebagaimana dimaksud dengan istilah korupsi yang dikenal saat ini. Hal ini dikarenakan istilah korupsi merupakan istilah modern yang tidak ditemui padanannya secara utuh dalam fikih atau hukum Islam. Meskipun demikian dengan melihat pada kenyataan bahwa korupsi merupakan praktek kecurangan dalam transaksi antar manusia, maka kata ini dapat ditelusuri pada beberapa definisi.

Di dalam al-Qur’an terdapat pembicaraan mengenai tindakan-tindakan yang dapat dipandang sebagai korupsi, diantaranya :(Anwar & Uin, 2008)

  • Firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 188

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya : “Dan janganlah kamu memakan harta sesama di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”

Dalam ayat ini dilarang makan harta sesama dengan jalan yang batil, yaitu dengan cara membawanya kepada pihak penguasa, diantaranya hakim dengan menyogoknya agar dimenangkan perkaranya sehingga ia dapat menguasai kekayaan tersebut. Kalimat ‘makan harta sesama dengan jalan yang batil’ disini merupakan perbuatan memperkaya diri sendiri, orang lain atau korporasi secara bertentangan dengan hukum (syariah).

  • Firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 161

وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ ۚ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Artinya : “Tidak mungkin seorang nabi melakukan gulul (berkhianat dalam urusan harta kekayaan). Barang siapa yang melakukan gulul (berkhianat dalam urusan harta kekayaan), maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang digululnya (dikhianatkan itu), kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedangkan mereka tidak dirugikan.”

Dalam ayat ini rujukan kepada korupsi dilakukan dengan menggunakan kata gulul. Secara harfiah gulul berarti pengkhianatan terhadap kepercayaan (amanah). Memang seperti ditegaskan oleh Syeh Hussein Alatas, seorang pemerhati fenomena korupsi, bahwa inti korupsi adalah penyelahgunaan kepercayaan untuk kepentingan pribadi atau pencurian melalui penipuan dalam situasi yang mengkhianati kepercayaan.[2]

  • Firman Allah dalam surat al-Maidah ayat 42, 62, dan 63[3]

Ayat 42

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ ۚ فَإِنْ جَاءُوكَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ أَوْ أَعْرِضْ عَنْهُمْ ۖ وَإِنْ تُعْرِضْ عَنْهُمْ فَلَنْ يَضُرُّوكَ شَيْئًا ۖ وَإِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Artinya : “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. jika mereka (orang yahudi) datang padamu (untuk meminta putusan) maka putuskanlah (perkara itu ) di antara mereka, atau berpalinglah dari mereka, jika kamu berpaling dari mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.”

Ayat 62 dan 63

وَتَرَىٰ كَثِيرًا مِنْهُمْ يُسَارِعُونَ فِي الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

Artinya : “Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat butuk apa yang mereka telah kerjakan itu. Mengapa orang-orang alim dan pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat butuk apa yang telah mereka kerjakan itu.”

Dalam ayat-ayat ini rujukan kepada korupsi dilakukan denga menyebut akl as-suht ‘makan yang haram’. Dalam kitab tafsir Ahkam al-Qur’an dikutip definisi sahabat IbnMas’ud tentang assuht sebagai ‘menjadi perantara dengan menerima imbalan antara seseorang dengan pihak penguasa untuk suatu kepentingan’. Khalifah umarIbnal-Khattab mengemukakan pengertian yang sama dengan IbnMas’uddimana ia menyatakan as-suht adalah bahwa seseorang yang memiliki pengaruh di lingkungan sumber kekuasaan menjadi perantara dengan menerima imbalan bagi seseorang lain yang mempunyai kepentingan sehingga penguasa tadi meluluskan keperluan orang itu. Ini artinya ada unsur penggunaan jabatan atau kekuasaan atau kewenangan untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi dengan menerima imbalan dari orang lain atas perbuatan itu.

 Dalam artikel ini selancarinfo berusaha menyajikan definisi dari dua sudut pandang antara hukum positif dan hukum islam, apabila didalam penulisan Ayat Alquran atau pengutipan yang kurang tepat teman-teman dapat memberikan informasi kepada kami melalui kollom komentar ataupun melalui kolom contact, kritik dan saran teman-teman akan sangat membantu dalam pengembangan blog ini, terimakasih.

 

 

 

 

Kutipan:

[1]Ibid

[2]Ibid hlm. 19

[3]Ibid hlm. 21

 

Sumber/refrensi:

DARDA PASMATUTI. (2019). PERKEMBANGAN PENGERTIAN TINDAK PIDANA KORUPSI DALAM HUKUM POSITIF DI INDONESIA. Ensiklopedia Social Review, 01(01), 100–109.

Next Post Previous Post